30 Persen Pekerja Terancam Masalah Kesehatan Mental

51 views

Selain terancam masalah kesehatan mental, pekerja juga berisiko mengalami depresi dan bergaya hidup kurang sehat.

Buruh Pekerja Karyawan Pegawai

Reaktor.co.id — Sebuah survei yang dilakukan oleh Vivant (perusahaan teknologi kesehatan asal Singapura) melaporkan, sebanyak 30 persen pekerja terancam masalah kesehatan mental.

Hal itu akibat tekanan yang dialami pekerja. Jika kesehatan mental sudah bermasalah, pekerja akan sulit menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Selain itu, sebanyak 28 persen pekerja juga berisiko mengalami depresi. Sebanyak 27 persen lainnya terus mengeluhkan tingkat stres kerja yang tinggi.

Survei tersebut juga melaporkan satu dari empat pekerja merasa tidak memiliki keseimbangan hidup dan kerja yang baik.

Survei juga menunjukkan, hampir setengah pekerja memiliki gaya hidup yang kurang sehat. Sebanyak 48 persen cuma menghabiskan waktu seharian buat duduk di depan meja, sedangkan 25 persennya tidak menjalankan pola makan yang baik.

Akibatnya, 23 persen pekerja juga berisiko terkena diabetes.

CEO Vivant, Adrit Raha, menyebutkan, survei ini juga untuk menyebarkan kesadaran akan depresi, kecemasan, dan stres di antara pekerja milenial.

“Kami berusaha agar kesehatan mental enggak lagi dianggap hal yang tabu,” kata dia, dilansir Kumparan dari Times of India.

Sebelumnya, hasil Survei Faktor Psikologi Kerja yang dilakukan oleh Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi)  juga menunjukkan, pekerja menghadapi kondisi kerja yang menimbulkan stres berat.

Kondisi tersebut di antaranya kurangnya waktu untuk istirahat, pekerjaan yang semakin kompleks, dan ketidakjelasan karier di masa depan.

Oleh karena itu, perusahaan atau pemberi kerja perlu mewujudkan tempat kerja yang sehat untuk mental para pekerja.

Disebutkan, risiko kerja yang memengaruhi kesehatan mental di antaranya kelelahan karena terlalu banyak lembur dan kekerasan seksual di tempat kerja. Risiko lainnya di luar tempat kerja seperti kemacetan.

Pekerja yang paling banyak stres berat terkait dengan beban kerja paling banyak di sektor e-commerce, arsitektur, dan pembuat konten media.

Pekerja yang stres berat karena tugas menumpuk dan kompleks paling banyak bekerja di e-commerce, teknologi informasi, desain komunikasi visual, dan pembuat konten.

Praktisi Kesehatan Mental, dr Jiemi Ardian, mengakui kondisi kerja yang tidak sehat bisa menjadi pencetus stres. Pencetus dari pekerjaan tersebut meningkatkan ambang stres pekerja.

“Puncaknya adalah mental breakdown, depresi, dan gangguan kesehatan mental. Untuk mengenalinya cukup dengan melihat apakah ada gangguan tidur,” ujarnya.

Tempat kerja yang sehat untuk mental diakui Head of Corp Communication CoHive, Kartika Octaviana penting untuk menunjang kerja.

Oleh karena itu, fasilitas yang dapat mengurangi pencetus stres dinilainya penting disediakan di tempat kerja. Salah satu tempat yang menyediakan fasilitas tersebut yakni co-working space.*

 

depresi Kesehatan Mental Pekerja

Related Post

Leave a reply